Sabtu, 05 Januari 2013

Tugas Penelitian Tindakan Kelas (Individu)



PENGGUNAAN METODE ROLE PLAYING PADA MATERI CERITA PENDEK UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN BERBAHASA SISWA KELAS IV SDN BALEREJO 02




di susun oleh :
HIRHOWATUL MUNAFFIYANTI
09141098




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI MADIUN
2013

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan judul “Penggunaan Metode Role Playing Pada Materi Cerita Pendek Untuk Meningkatkan Ketrampilan Berbahasa Siswa Kelas IV SDN Balerejo 02”.
Tidak lupa penulis menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada yang terhormat :
1.      Bapak Dr. Parji, M.Pd., Rektor IKIP PGRI Madiun.
2.      Bapak Drs. H. Ibadullah Mallawi, M.Pd., Kaprodi PGSD.
3.      Bapak Edy Siswanto, M.Pd., dosen mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas.
4.      Orang tua penulis yang telah memberikan dukungan moril maupun spiritual.
5.      Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penulisan ini.
Atas jasa beliau-beliau penulis hanya dapat mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, semoga Allah SWT memberikan hidayah dan limpahan karunia-Nya serta menjadikan sebagai amal yang tak ternilai harganya dan mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah SWT.
Sekian yang dapat penulis sampaikan. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi tercapainya kesempurnaan penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi para pembaca umumnya. Amin.



Madiun, 02 Januari 2013


Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia memang diajarkan sejak anak-anak, tetapi model pengajaran yang baik dan benar tidak banyak dilakukan oleh seorang pengajar. Metode pengajaran bahasa Indonesia tidak dapat menggunakan satu metode karena bahasa Indonesia sendiri yang bersifat dinamis. Bahasa sendiri bukan sebagai ilmu tetapi sebagai keterampilan sehingga penggunaan metode yang tepat perlu dilakukan. Pengajar bahasa memiliki suatu kewajiban untuk mempertahankan keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus memperjuangkan bahasa Indonesia dapat diterima dan membuat tertarik bangsa lain untuk mempelajarinya. Oleh sebab itu, pengajaran yang baik menjadi tanggung jawab para pengajar bahasa.
Di abad ini sumber-sumber informasi telah berkembang pesat di luar sekolah dengan cara yang begitu menarik dan ketika memasuki sekolah siswa sudah memiliki kekayaan informasi itu. Pada pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar sangat mengandalkan penggunakan metode-metode yang aplikatif dan menarik. Pembelajaran yang menarik akan memikat anak-anak untuk terus dan betah untuk mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa ke-2 setelah bahasa daerah. Apabila siswa sudah tertarik dengan pembelajaran maka akan dengan mudah meningkatkan prestasi siswa dalam bidang bahasa. Namun, bagi sebagian siswa pembelajaran bahasa Indonesia sangat membosankan karena mereka sudah merasa bisa dan penyampaian materi yang kurang menarik sehingga secara tidak langsung siswa menjadi lemah dalam penangkapan materi tersebut. Tentu penulis sangat merasakan problem pembelajaran yang terjadi sewaktu pengalaman praktik lapangan bahasa Indonesia.
Dalam materi cerita pendek, terutama pemahaman tentang tema yang terkadang dalam cerita pendek terkadang banyak menimbulkan penafsiran yang berbeda. Demikian halnya pemahaman terhadap karakter tokoh yang ada dalam cerita pendek sering kali membuat salah melakukan pemahamam. Untuk itu perlunya suatu metode yang mampu memberikan gambaran nyata sekaligus siswa melakukan sehingga dengan mudah memahaminya. Salah satu alternatifnya adalah dengan menerapkan metode role playing. Metode role playing ini akan memberikan pemahaman dengan cara siswa berperan sebagai tokoh yang ada dalam cerita pendek. Untuk dapat membawakan peran tokoh tersebut siswa harus memahami karakter tokoh yang akan di perankan.
Pada pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi cerita pendek, banyak siswa yang belum memahami karakter tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Pada hasil pembelajaran sebelumnya diperoleh nilai rata-rata siswa sebesar 60 dengan ketuntasan 30%. Setelah penulis amati terhadap materi cerita pendek, penulis dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Pemahaman konsep materi kurang
2. Rendahnya tingkat penyerapan terhadap materi cerita pendek
3.  Minat membaca siswa yang masih kurang, sehingga kurang memahami karakter tokoh cerita pendek.
 Setelah penulis amati, beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat penguasaan siswa, antara lain metode yang digunakan kurang tepat dan siswa kurang bersemangat untuk membaca. Untuk mengatasi kurangnya tingkat pemahaman siswa tersebut, penulis mencoba untuk mengadakan perbaikan pembelajaran yang lalu dengan cara mengganti metode pembelajaran yang digunakan dengan metode pembelajaran role playing.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis menganggap penting untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas tentang Penggunaan Metode Role Playing Pada Materi Cerita Pendek Untuk Meningkatkan Ketrampilan Berbahasa Siswa Kelas IV SDN Balerejo 02.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan bahwa :
1.    Bagaimanakah penggunaan metode role playing pada materi cerita pendek dapat meningkatkan ketrampilan berbahasa siswa kelas IV SDN Balerejo 02 ?
2.    Apakah penggunaan metode role playing pada materi cerita pendek dapat meningkatkan ketrampilan berbahasa siswa kelas IV SDN Balerejo 02 ?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini, yaitu :
1.    Mendeskripsikan penggunaan metode role playing pada materi cerita pendek untuk meningkatkan ketrampilan berbahasa siswa kelas IV SDN Balerejo 02.
2.    Mendeskripsikan peningkatan ketrampilan berbahasa pada materi cerita pendek siswa kelas IV SDN Balerejo 02.

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini, yaitu :
1.    Manfaat teoritis
Menambah khasanah pengetahuan bagi khalayak luas.
2.    Manfaat praktis
a.    Bagi guru
Sebagai bahan masukan / rujukan guru-guru guna meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia mengenai materi Cerita Pendek di kelasnya.
b.    Bagi siswa
Ø Sebagai bahan masukan bagi siswa untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia.
Ø Mendapat kesan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia itu menyenangkan.
Ø Melatih siswa agar lebih berinisiatif, bertanggungjawab, mandiri dan dapat meningkatkan motivasi belajar.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Metode Role Playing
Metode role playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa (Sudjana, 2004). Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Pemain ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung pada apa yang diperankan. Role playing adalah suatu tiruan yang bersifat drama yang diperankan oleh dua orang atau lebih tentang peranan yang berbeda-beda dalam keadaan tertentu.
Metode role playing adalah peranan sebuah situasi dalam hidup manusia dengan tanpa diadakan latihan, dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk dipakai sebagai bahan analisa oleh kelompok. Menurut Mulyasa (2006), bermain peran (Role Playing) diarahkan pada pemecahan masalah-masalah yang menyangkut hubungan antarmanusia, terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.
Kelebihan metode role playing adalah sebagai berikut:
 1. Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memejukankemampuannya dalam bekerjasama.
2. Siswa dapat mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
3. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan padat digunakan dalam situasi dan waktu yangberbada.
 4. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui siswa pada waktu melakukan permainan.
5. Permainan meruoakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.
Kelemahan dari metode ini adalah membutuhkan waktu yang lama sehingga dapat mengganggu pelajaran yang lain maupun menunda materi lain yang akan disampaikan. Dalam pembelajaran cerita pendek, dapat dilakukan dengan menggunakan metode role play sehingga menjadikan siswa lebih aktif. Metode role play menurut Asri Budiningsih daptat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu dengan memainkan peran, melakukan wawancara untuk mengetahui maksud pelajaran dan sebagainnya.

B. Ketrampilan Berbahasa
Keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat aspek, yaitu (a) keterampilan menyimak, (b) keterampilan berbicara, (c) keterampilan membaca, dan (d) keterampilan menulis. Namun dalam uraian ini kami akan membahas mengenai aspek keterampilan berbahasa bersifat reseptif (menerima). Adapun aspek tersebut adalah keterampilan menyimak dan keterampilan membaca. Penjelasan kedua aspek tersebut sebagai berikut.
1.   Keterampilan Menyimak
a. Pengertian Menyimak
                        Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informas, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang tidak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (Tarigan, 1980:19).
b.   Jenis-jenis menyimak
            Jenis menyimak dibagi menjadi dua bagian besar yaitu menyimak ekstensif dan menyimak intensif. Menyimak ekstensif adalah sejenis kegiatan menyimak yang berhubungan dengan atau mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap sesuatu bahasa, tidak perlu di bawah bimbingan langsung seorang guru (Tarigan, 1980:23). menyimak ekstensif dibagi empat, yaitu:
1.  Menyimak sosial
            Menyimak sosial atau menyimak konversasional ataupun menyimak sopan biasanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang-orang mengobrol atau bercengkrama mengenai hal-hal yang menarik perhatian semua oran dan saling mendengarkan satu sama lain untuk membuat responsi-responsi yang pantas, mengukuti detail-detail yang menarik, dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa-apa yang dikemukakan oleh seorang rekan.
2.  Menyimak sekunder
            Menyimak sekunder adalah sejenis kegiatan menyimak secara kebetulan dan secara ekstensif.
3.  Menyimak estetik
            Menyimak estetik atau yang disebut juga menyimak apresiatif adalah fase terakhir dari kegiatan menyimak secara kebetulan.
4.  Menyimak pasif
            Menyimak pasif adalah penyerapan suatu bahasa tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya-upaya kita pada saat belajar dengan teliti, belajar tergesa-gesa, menghafal luar kepala, berlatih, serta menguasai sesuatu bahasa.
Menyimak intensif dibagi menjadi enam yaitu sebagai berikut.
5.   Menyimak kritis
            Menyimak kritis adalah sejenis kegiatan menyimak, yang di dalamnya sudah terlihat  kurangnya (atau tiadanya) keasliannya, ataupun prasangka serta ketidaktelitian-ketidaktelitian yang akan diamati.
6.    Menyimak konsentratif
           Menyimak konsentratif merupakan menyimak yang merupakan sejenis telaah.
7.      Menyimak kreatif
            Menyimak kreatif mengakibatkan dalam pembentukan atau rekonstruksi seorang anak secara imajinatif kesenangan-kesenangan akan bunyi, visi atau penglihatan gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan oleh apa-apa yang didengarnya.
8.         Menyimak eksploratori
            Menyimak eksploratori atau menyimak penyelidikan adalah sejenis menyimak intensif dengan maksud dan tujuan yang agak lebih sempit.
9.         Menyimak interogatif
            Menyimak interogatif adalah sejenis menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan karena si penyimak harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
10.     Menyimak selektif
            Menyimak selektif adalah Penyimak yang baik tahu memilih bagian-bagian penting dari bahan simakan yang perlu diperhatikan da diingat. Tidak semua bahan yang diterima ditelan mentah-mentah, tetapi dipilihnya bagian–bagian yang bersifat inti.
2.   Keterampilan Membaca
a.      Pengertian Membaca
       Membaca adalah pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemahaman diperoleh apabila pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan.
b.     Tujuan membaca
·         Memahami aspek kebahasaan (kata, frasa, kalimat, paragraf, dan wacana) dalam teks.
·         Memahami pesan yang ada dalam.
·         Mencari informasi penting dari teks.
·         Mendapatkan petunjuk melakukan sesuatu pekerjaan atau tugas.
·           Menikmati bacaan, baik secara tekstual maupun kontekstual.
c.  Metode Pengajaran Membaca
Terdapat beberapa metode pengajaran membaca yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain :
1. Metode Reseptif
Metode ini mengarah ke proses penerimaan isi bacaan maupun simakan baik tersurat maupun tersirat. Metode tersebut sangat cocok diterapkan kepada siswa yang dianggap telah banyak menguasai kosakata, frase, maupun kalimat. Yang dipentingkan bagi siswa dalam suasana reseptif adalah bagaimana isi bacaan atau simakan diserap dengan bagus.
2. Metode Komunikatif
Desain yang bermuatan komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan konkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diutarakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistis
3. Metode Integratif
Integratif berarti menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, mendengarkan diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca.
4. Metode Partisipatori
Metode ini lebih menekankan keterlibatan siswa secara penuh. Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukkan sebagai subjek belajar. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil belajar. Guru hanya bertindak sebagai pemandu atau fasilitator. Guru berperan sebagai pemandu yang penuh dengan motivasi, pandai berperan sebagai moderator yang kreatif.
3.      Ketrampilan Berbicara
Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan jarak jauh. Berbicara merupakan alat komunikasi yang alami antara anggota masyarakat untuk mengungkapkan pikiran dan sebagai sebuah bentuk tingkah laku sosial.
4.      Ketrampilan Menulis
Menulis  merupakan  salah  satu  kemampuan  berbahasa.  Dalam  pembagian  kemampuan  berbahasa,  menulis  selalu  diletakkan paling  akhir  setelah  kemampuan  menyimak,  berbicara,  dan  membaca. Meskipun  selalu  ditulis  paling  akhir,  bukan  berarti  menulis  merupakan  kemampuan  yang  tidak  penting.
Dalam  menulis  semua  unsur  keterampilan  berbahasa  harus dikonsentrasikan  secara  penuh  agar  mendapat  hasil  yang  benar-benar baik.  Henry  Guntur  Tarigan  (1986:  15)  menyatakan  bahwa  menulis  dapat  diartikan  sebagai  kegiatan  menuangkan  ide/gagasan  dengan menggunakan  bahasa  tulis  sebagai  media  penyampai.
Menulis  dapat  dianggap  sebagai  suatu  proses  maupun  suatu hasil.  Menulis  merupakan  kegiatan  yang  dilakukan  oleh  seseorang untuk  menghasilkan  sebuah  tulisan.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Objek Penelitian
              
B.  Setting, Lokasi dan Subyek Penelitian
a.  Waktu Penelitian
Dengan beberapa pertimbangan dan alasan penulis menentukan menggunakan waktu penelitian selama 3 bulan, yakni mulai bulan Oktober - Desember. Waktu dari perencanaan sampai penulisan laporan hasil penelitian tersebut pada semester I Tahun pelajaran 2012/2013.
b.  Lokasi Penelitian
Dalam penilitian ini penulis mengambil lokasi di SDN Balerejo 02 dengan pertimbangan tempat PPL, sehingga memudahkan dalam mencari data.
c.  Subyek Penelitian
Subyek dalam peniltian ini adalah siswa kelas IV SDN Balerejo 02 dengan jumlah siswa 15 anak dengan jumlah siswa laki-laki 4 anak dan siswa perempuan 11 anak.

C.  Metode Pengumpulan Data
  Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas : observasi, wawancara, dokumentasi dan tes.
a. Teknik observasi
Teknik observasi digunakan untuk mengamati gejala-gejala yang tampak dalam proses pembelajaran, kemampuan siswa dalam berbicara, dan melakukan tugas-tugas dalam proses pembelajaran.
b. Teknik wawancara
Teknik wawancara digunakan untuk wawancara dengan siswa kesan-kesan dan pengungkapan perasaan siswa ketika pembelajaran menggunakan metode role playing.
c. Teknik dokumentasi
Teknik dokumentasi digunakan untuk mendokumentasikan data tentang proses pembelajaran yang menggambarkan langkah-langkah kongkrit peneliti dalam proses pembelajaran.
d. Teknik tes
Teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan berbahasa siswa dalam cerita pendek.

D.  Metode Analisis Data
Data yang telah terkumpul akan dianalisis secara deskriptif, baik deskriptif kuantitatif maupun deskriptif kualitatif. Data yang akan dianalisis secara deskriptif kuantitatif adalah data tentang keaktifan siswa yang dikumpulkan melalui cek list pada rubrik pengamatan keaktifan siswa dan data tentang kemampuan berbahasa siswa.
Data kualitatif berupa catatan pengamatan, dokumen foto, dan rekaman wawancara akan dianalisis dengan analisis kualitatif dengan tahapan pemaparan data, penyederhanaan data, pengelompokan data sesuai fokus masalah, dan pemaknaan.

DAFTAR PUSTAKA

Tarigan, Henry Guntur. 1980. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 1980. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 1980. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.



PENGGUNAAN METODE ROLE PLAYING PADA MATERI CERITA PENDEK UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN BERBAHASA SISWA KELAS IV SDN BALEREJO 02




di susun oleh :
HIRHOWATUL MUNAFFIYANTI
09141098




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI MADIUN
2013

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan judul “Penggunaan Metode Role Playing Pada Materi Cerita Pendek Untuk Meningkatkan Ketrampilan Berbahasa Siswa Kelas IV SDN Balerejo 02”.
Tidak lupa penulis menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada yang terhormat :
1.      Bapak Dr. Parji, M.Pd., Rektor IKIP PGRI Madiun.
2.      Bapak Drs. H. Ibadullah Mallawi, M.Pd., Kaprodi PGSD.
3.      Bapak Edy Siswanto, M.Pd., dosen mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas.
4.      Orang tua penulis yang telah memberikan dukungan moril maupun spiritual.
5.      Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penulisan ini.
Atas jasa beliau-beliau penulis hanya dapat mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, semoga Allah SWT memberikan hidayah dan limpahan karunia-Nya serta menjadikan sebagai amal yang tak ternilai harganya dan mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah SWT.
Sekian yang dapat penulis sampaikan. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi tercapainya kesempurnaan penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi para pembaca umumnya. Amin.



Madiun, 02 Januari 2013


Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia memang diajarkan sejak anak-anak, tetapi model pengajaran yang baik dan benar tidak banyak dilakukan oleh seorang pengajar. Metode pengajaran bahasa Indonesia tidak dapat menggunakan satu metode karena bahasa Indonesia sendiri yang bersifat dinamis. Bahasa sendiri bukan sebagai ilmu tetapi sebagai keterampilan sehingga penggunaan metode yang tepat perlu dilakukan. Pengajar bahasa memiliki suatu kewajiban untuk mempertahankan keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus memperjuangkan bahasa Indonesia dapat diterima dan membuat tertarik bangsa lain untuk mempelajarinya. Oleh sebab itu, pengajaran yang baik menjadi tanggung jawab para pengajar bahasa.
Di abad ini sumber-sumber informasi telah berkembang pesat di luar sekolah dengan cara yang begitu menarik dan ketika memasuki sekolah siswa sudah memiliki kekayaan informasi itu. Pada pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar sangat mengandalkan penggunakan metode-metode yang aplikatif dan menarik. Pembelajaran yang menarik akan memikat anak-anak untuk terus dan betah untuk mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa ke-2 setelah bahasa daerah. Apabila siswa sudah tertarik dengan pembelajaran maka akan dengan mudah meningkatkan prestasi siswa dalam bidang bahasa. Namun, bagi sebagian siswa pembelajaran bahasa Indonesia sangat membosankan karena mereka sudah merasa bisa dan penyampaian materi yang kurang menarik sehingga secara tidak langsung siswa menjadi lemah dalam penangkapan materi tersebut. Tentu penulis sangat merasakan problem pembelajaran yang terjadi sewaktu pengalaman praktik lapangan bahasa Indonesia.
Dalam materi cerita pendek, terutama pemahaman tentang tema yang terkadang dalam cerita pendek terkadang banyak menimbulkan penafsiran yang berbeda. Demikian halnya pemahaman terhadap karakter tokoh yang ada dalam cerita pendek sering kali membuat salah melakukan pemahamam. Untuk itu perlunya suatu metode yang mampu memberikan gambaran nyata sekaligus siswa melakukan sehingga dengan mudah memahaminya. Salah satu alternatifnya adalah dengan menerapkan metode role playing. Metode role playing ini akan memberikan pemahaman dengan cara siswa berperan sebagai tokoh yang ada dalam cerita pendek. Untuk dapat membawakan peran tokoh tersebut siswa harus memahami karakter tokoh yang akan di perankan.
Pada pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi cerita pendek, banyak siswa yang belum memahami karakter tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Pada hasil pembelajaran sebelumnya diperoleh nilai rata-rata siswa sebesar 60 dengan ketuntasan 30%. Setelah penulis amati terhadap materi cerita pendek, penulis dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Pemahaman konsep materi kurang
2. Rendahnya tingkat penyerapan terhadap materi cerita pendek
3.  Minat membaca siswa yang masih kurang, sehingga kurang memahami karakter tokoh cerita pendek.
 Setelah penulis amati, beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat penguasaan siswa, antara lain metode yang digunakan kurang tepat dan siswa kurang bersemangat untuk membaca. Untuk mengatasi kurangnya tingkat pemahaman siswa tersebut, penulis mencoba untuk mengadakan perbaikan pembelajaran yang lalu dengan cara mengganti metode pembelajaran yang digunakan dengan metode pembelajaran role playing.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis menganggap penting untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas tentang Penggunaan Metode Role Playing Pada Materi Cerita Pendek Untuk Meningkatkan Ketrampilan Berbahasa Siswa Kelas IV SDN Balerejo 02.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan bahwa :
1.    Bagaimanakah penggunaan metode role playing pada materi cerita pendek dapat meningkatkan ketrampilan berbahasa siswa kelas IV SDN Balerejo 02 ?
2.    Apakah penggunaan metode role playing pada materi cerita pendek dapat meningkatkan ketrampilan berbahasa siswa kelas IV SDN Balerejo 02 ?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini, yaitu :
1.    Mendeskripsikan penggunaan metode role playing pada materi cerita pendek untuk meningkatkan ketrampilan berbahasa siswa kelas IV SDN Balerejo 02.
2.    Mendeskripsikan peningkatan ketrampilan berbahasa pada materi cerita pendek siswa kelas IV SDN Balerejo 02.

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini, yaitu :
1.    Manfaat teoritis
Menambah khasanah pengetahuan bagi khalayak luas.
2.    Manfaat praktis
a.    Bagi guru
Sebagai bahan masukan / rujukan guru-guru guna meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia mengenai materi Cerita Pendek di kelasnya.
b.    Bagi siswa
Ø Sebagai bahan masukan bagi siswa untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia.
Ø Mendapat kesan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia itu menyenangkan.
Ø Melatih siswa agar lebih berinisiatif, bertanggungjawab, mandiri dan dapat meningkatkan motivasi belajar.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Metode Role Playing
Metode role playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa (Sudjana, 2004). Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Pemain ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung pada apa yang diperankan. Role playing adalah suatu tiruan yang bersifat drama yang diperankan oleh dua orang atau lebih tentang peranan yang berbeda-beda dalam keadaan tertentu.
Metode role playing adalah peranan sebuah situasi dalam hidup manusia dengan tanpa diadakan latihan, dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk dipakai sebagai bahan analisa oleh kelompok. Menurut Mulyasa (2006), bermain peran (Role Playing) diarahkan pada pemecahan masalah-masalah yang menyangkut hubungan antarmanusia, terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.
Kelebihan metode role playing adalah sebagai berikut:
 1. Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memejukankemampuannya dalam bekerjasama.
2. Siswa dapat mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
3. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan padat digunakan dalam situasi dan waktu yangberbada.
 4. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui siswa pada waktu melakukan permainan.
5. Permainan meruoakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.
Kelemahan dari metode ini adalah membutuhkan waktu yang lama sehingga dapat mengganggu pelajaran yang lain maupun menunda materi lain yang akan disampaikan. Dalam pembelajaran cerita pendek, dapat dilakukan dengan menggunakan metode role play sehingga menjadikan siswa lebih aktif. Metode role play menurut Asri Budiningsih daptat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu dengan memainkan peran, melakukan wawancara untuk mengetahui maksud pelajaran dan sebagainnya.

B. Ketrampilan Berbahasa
Keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat aspek, yaitu (a) keterampilan menyimak, (b) keterampilan berbicara, (c) keterampilan membaca, dan (d) keterampilan menulis. Namun dalam uraian ini kami akan membahas mengenai aspek keterampilan berbahasa bersifat reseptif (menerima). Adapun aspek tersebut adalah keterampilan menyimak dan keterampilan membaca. Penjelasan kedua aspek tersebut sebagai berikut.
1.   Keterampilan Menyimak
a. Pengertian Menyimak
                        Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informas, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang tidak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (Tarigan, 1980:19).
b.   Jenis-jenis menyimak
            Jenis menyimak dibagi menjadi dua bagian besar yaitu menyimak ekstensif dan menyimak intensif. Menyimak ekstensif adalah sejenis kegiatan menyimak yang berhubungan dengan atau mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap sesuatu bahasa, tidak perlu di bawah bimbingan langsung seorang guru (Tarigan, 1980:23). menyimak ekstensif dibagi empat, yaitu:
1.  Menyimak sosial
            Menyimak sosial atau menyimak konversasional ataupun menyimak sopan biasanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang-orang mengobrol atau bercengkrama mengenai hal-hal yang menarik perhatian semua oran dan saling mendengarkan satu sama lain untuk membuat responsi-responsi yang pantas, mengukuti detail-detail yang menarik, dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa-apa yang dikemukakan oleh seorang rekan.
2.  Menyimak sekunder
            Menyimak sekunder adalah sejenis kegiatan menyimak secara kebetulan dan secara ekstensif.
3.  Menyimak estetik
            Menyimak estetik atau yang disebut juga menyimak apresiatif adalah fase terakhir dari kegiatan menyimak secara kebetulan.
4.  Menyimak pasif
            Menyimak pasif adalah penyerapan suatu bahasa tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya-upaya kita pada saat belajar dengan teliti, belajar tergesa-gesa, menghafal luar kepala, berlatih, serta menguasai sesuatu bahasa.
Menyimak intensif dibagi menjadi enam yaitu sebagai berikut.
5.   Menyimak kritis
            Menyimak kritis adalah sejenis kegiatan menyimak, yang di dalamnya sudah terlihat  kurangnya (atau tiadanya) keasliannya, ataupun prasangka serta ketidaktelitian-ketidaktelitian yang akan diamati.
6.    Menyimak konsentratif
           Menyimak konsentratif merupakan menyimak yang merupakan sejenis telaah.
7.      Menyimak kreatif
            Menyimak kreatif mengakibatkan dalam pembentukan atau rekonstruksi seorang anak secara imajinatif kesenangan-kesenangan akan bunyi, visi atau penglihatan gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan oleh apa-apa yang didengarnya.
8.         Menyimak eksploratori
            Menyimak eksploratori atau menyimak penyelidikan adalah sejenis menyimak intensif dengan maksud dan tujuan yang agak lebih sempit.
9.         Menyimak interogatif
            Menyimak interogatif adalah sejenis menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan karena si penyimak harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
10.     Menyimak selektif
            Menyimak selektif adalah Penyimak yang baik tahu memilih bagian-bagian penting dari bahan simakan yang perlu diperhatikan da diingat. Tidak semua bahan yang diterima ditelan mentah-mentah, tetapi dipilihnya bagian–bagian yang bersifat inti.
2.   Keterampilan Membaca
a.      Pengertian Membaca
       Membaca adalah pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemahaman diperoleh apabila pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan.
b.     Tujuan membaca
·         Memahami aspek kebahasaan (kata, frasa, kalimat, paragraf, dan wacana) dalam teks.
·         Memahami pesan yang ada dalam.
·         Mencari informasi penting dari teks.
·         Mendapatkan petunjuk melakukan sesuatu pekerjaan atau tugas.
·           Menikmati bacaan, baik secara tekstual maupun kontekstual.
c.  Metode Pengajaran Membaca
Terdapat beberapa metode pengajaran membaca yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain :
1. Metode Reseptif
Metode ini mengarah ke proses penerimaan isi bacaan maupun simakan baik tersurat maupun tersirat. Metode tersebut sangat cocok diterapkan kepada siswa yang dianggap telah banyak menguasai kosakata, frase, maupun kalimat. Yang dipentingkan bagi siswa dalam suasana reseptif adalah bagaimana isi bacaan atau simakan diserap dengan bagus.
2. Metode Komunikatif
Desain yang bermuatan komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan konkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diutarakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistis
3. Metode Integratif
Integratif berarti menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, mendengarkan diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca.
4. Metode Partisipatori
Metode ini lebih menekankan keterlibatan siswa secara penuh. Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukkan sebagai subjek belajar. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil belajar. Guru hanya bertindak sebagai pemandu atau fasilitator. Guru berperan sebagai pemandu yang penuh dengan motivasi, pandai berperan sebagai moderator yang kreatif.
3.      Ketrampilan Berbicara
Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan jarak jauh. Berbicara merupakan alat komunikasi yang alami antara anggota masyarakat untuk mengungkapkan pikiran dan sebagai sebuah bentuk tingkah laku sosial.
4.      Ketrampilan Menulis
Menulis  merupakan  salah  satu  kemampuan  berbahasa.  Dalam  pembagian  kemampuan  berbahasa,  menulis  selalu  diletakkan paling  akhir  setelah  kemampuan  menyimak,  berbicara,  dan  membaca. Meskipun  selalu  ditulis  paling  akhir,  bukan  berarti  menulis  merupakan  kemampuan  yang  tidak  penting.
Dalam  menulis  semua  unsur  keterampilan  berbahasa  harus dikonsentrasikan  secara  penuh  agar  mendapat  hasil  yang  benar-benar baik.  Henry  Guntur  Tarigan  (1986:  15)  menyatakan  bahwa  menulis  dapat  diartikan  sebagai  kegiatan  menuangkan  ide/gagasan  dengan menggunakan  bahasa  tulis  sebagai  media  penyampai.
Menulis  dapat  dianggap  sebagai  suatu  proses  maupun  suatu hasil.  Menulis  merupakan  kegiatan  yang  dilakukan  oleh  seseorang untuk  menghasilkan  sebuah  tulisan.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Objek Penelitian
              Siklus 1
Perencanaan
Planning

Revise
Revisi

Action and
Pelaksanaan

 




Reflection
Observasi

 



Perencanaan
Planning

                   Siklus 2
Reflection
Observasi

Revise
Revisi

Action and
Pelaksanaan

 








B.  Setting, Lokasi dan Subyek Penelitian
a.  Waktu Penelitian
Dengan beberapa pertimbangan dan alasan penulis menentukan menggunakan waktu penelitian selama 3 bulan, yakni mulai bulan Oktober - Desember. Waktu dari perencanaan sampai penulisan laporan hasil penelitian tersebut pada semester I Tahun pelajaran 2012/2013.
b.  Lokasi Penelitian
Dalam penilitian ini penulis mengambil lokasi di SDN Balerejo 02 dengan pertimbangan tempat PPL, sehingga memudahkan dalam mencari data.
c.  Subyek Penelitian
Subyek dalam peniltian ini adalah siswa kelas IV SDN Balerejo 02 dengan jumlah siswa 15 anak dengan jumlah siswa laki-laki 4 anak dan siswa perempuan 11 anak.

C.  Metode Pengumpulan Data
  Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas : observasi, wawancara, dokumentasi dan tes.
a. Teknik observasi
Teknik observasi digunakan untuk mengamati gejala-gejala yang tampak dalam proses pembelajaran, kemampuan siswa dalam berbicara, dan melakukan tugas-tugas dalam proses pembelajaran.
b. Teknik wawancara
Teknik wawancara digunakan untuk wawancara dengan siswa kesan-kesan dan pengungkapan perasaan siswa ketika pembelajaran menggunakan metode role playing.
c. Teknik dokumentasi
Teknik dokumentasi digunakan untuk mendokumentasikan data tentang proses pembelajaran yang menggambarkan langkah-langkah kongkrit peneliti dalam proses pembelajaran.
d. Teknik tes
Teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan berbahasa siswa dalam cerita pendek.

D.  Metode Analisis Data
Data yang telah terkumpul akan dianalisis secara deskriptif, baik deskriptif kuantitatif maupun deskriptif kualitatif. Data yang akan dianalisis secara deskriptif kuantitatif adalah data tentang keaktifan siswa yang dikumpulkan melalui cek list pada rubrik pengamatan keaktifan siswa dan data tentang kemampuan berbahasa siswa.
Data kualitatif berupa catatan pengamatan, dokumen foto, dan rekaman wawancara akan dianalisis dengan analisis kualitatif dengan tahapan pemaparan data, penyederhanaan data, pengelompokan data sesuai fokus masalah, dan pemaknaan.

DAFTAR PUSTAKA

Tarigan, Henry Guntur. 1980. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 1980. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 1980. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar